Jika anda ingin membaca kisah cinta, baiknya anda berhenti membaca tulisan ini. Ini adalah tulisan tentang benci dan dendam, tentang kejahatan dan keegoisan, dan tentang perseteruan antara dua manusia. Kisah yang akan anda baca adalah kisah sengit tarik menarik antara dua kutub, dua perbedaan yang tak mungkin menyatu. Tidak mungkin.
Kisah ini bermula dan berakhir di sebuah kota pesisir bernama San Antonio. Di kota inilah banyak terjadi gonjang-ganjing politik pada tahun 1960-an karena diangkatnya Pablo Neruda, penyair ternama pemenang nobel, sebagai calon presiden Chile. Di antara deburan ombak, kilauan pasir, kicauan camar, dan bel gereja di pantai San Antonio inilah, sang penyair menulis bait-bait puisinya yang abadi dan mempengaruhi banyak orang; dari politisi hingga para pecinta. Tapi kita tidak akan membicarakan romantisme Neruda di sini. Karena di kota ini akan terjadi perseteruan sengit besar beberapa dekade setelah kematian Neruda. Perseteruan sengit yang hanya diceritakan oleh pengalaman Nina dan Jorge, tetapi dirasakan oleh semua orang yang punya harapan di dunia ini.
Akar bencana dimulai pada tahun 1985. Pada tahun tersebut tanggal 1 Juli, Nina Fernandes lahir. Ayah dan ibunya adalah ilmuwan yang mengajar di Universitas. Ia anak kedua dari dua bersaudara, keduanya perempuan. Nina adalah perempuan biasa saja. Ia memiliki mata yang biasa saja, lingkar pinggul yang biasa saja, rambut hitam lurus yang biasa saja, kulit terang yang biasa saja, bibir tipis yang biasa saja, tinggi rata-rata yang biasa saja. Sungguh ia perempuan biasa yang sangking biasanya, setiap kali ia lewat, lelaki atau wanita akan mengagumi ke ‘biasa’ annya. Ketika ia naik trem untuk pergi ke tempat kerjanya, pria yang berdiri di depannya takkan pernah melupakan saat-saat beberapa menit yang diiringi suara roda besi trem menggilas rel. Lelaki manapun yang ia lewati minimal akan melirik, menengok, atau memelototinya tanpa berani menggodanya.
Karena pada kenyataannya di dunia ini, perempuan biasa sangatlah langka. Kau biasa melihatnya di acara-acara TV, di opera sabun, di majalah-majalah, tapi jarang di dunia nyata. Itulah yang membuat Nina Fernandes begitu spesial dalam ke’biasa’annya. Semua orang paham bahwa itu biasa, tapi di saat yang sama, apa yang mereka sadari di pikiran hanya beberapa kali mereka dapatkan di hidup mereka; salah satunya adalah berpapasan dengan Nina Fernandes.
Nina lahir dari keluarga yang biasa juga: ada ayah, ibu, kakak perempuan dan seekor anjing yang biasa kita lihat pada pamphlet-pamflet iklan produk rumah tangga. Ayah, ibu, kakak, dan Nina semua berpendidikan, semua harmonis (tentu dalam konteks yang juga biasa, ada naik turun, tapi tetap harmonis). Nina juga memiliki sifat baik yang biasa—yang ditanamkan oleh orang tuanya semenjak ia kecil. Ia sopan, tahu etika, bicaranya lembut. Ia perduli pada semua orang yang ada di sekitarnya. Ia berusaha membuat orang tidak kecewa, ia tak mau dianggap tidak baik—karena menjadi tidak baik artinya menjadi tidak biasa. Dan tidak biasa sudah biasa di dunia fana ini.
Sejak ia mulai puber, karena ke’biasa’ annya ini, ia pun mendamba pria ‘biasa’. Ia ingin pasangan dengan standar ‘biasa’ seorang pria: pria yang maskulin, bisa mengontrol situasi, bisa memberikan rasa aman baik secara ekonomi dan emosional dan bisa menjaganya sebagai perempuan. Dengan pria biasa ini ia mendambakan hubungan yang juga biasa—pacaran tanpa seks, menikah, punya anak, dan mengurus anak. Pria bekerja, ia juga bekerja di luar dan di dalam rumah. Pria memimpin rumah tangganya, ia mengurus semua kebutuhan bagai perempuan super yang bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Cita-cita yang biasa.
Selama 24 tahun hidupnya, Nina berusaha mencari pria yang biasa ini. Namun seperti yang telah ditulis di atas, mencari yang biasa di dunia yang tidak biasa adalah hal yang sangat sulit. Ia telah beberapa kali berpacaran dengan pria yang ‘terlihat’ biasa. Ia pernah berpacaran dengan pria anak orang kaya bermobil cat loreng yang ternyata memiliki pola hidup foya-foya yang tidak biasa. Ia pernah berpacaran juga dengan pria biasa, pengertian, kadang pencemburu, tampan, hampir biasa—kalau saja ia tidak sakit jiwa kambuhan berupa posesif, kadang gila kadang waras, kadang pengertian kadang mengekang di saat yang tidak tepat. Lalu ia juga berpacaran dengan pria yang terlihat tidak biasa namun ternyata ‘sangat’ tidak biasa; posesif, penghasilan ekonominya membuntuti kesuksesan orang tua, dan suatu hari memutuskan Nina karena merasa tidak tahan dengan ke’biasa’ an. Terakhir, Nina memutuskan untuk sedikit bereksperimen dengan bepacaran selama satu setengah minggu dengan pria yang terlihat kurang kadar ‘biasa’ nya. Cerdas, logis, humoris, berwajah tidak begitu biasa (dibawah lelaki biasa). Yang paling biasa adalah cara si pria mendekati Nina—pendekatan, tembak, dapat. Mudah sekali mereka mejadi kekasih, semudah mereka putus.
Sementara kita tinggalkan dulu Nina Fernandes untuk melihat lawannya: Jorge Martinez. Jorge lahir enam hari setelah Nina. Ketika itu hari senin di pagi buta dan tidak seperti biasanya bayi dilahirkan (dimana ibunya penuh rasa sakit dan berteriak-teriak parah), Jorge lahir dengan sangat mudah karena ia sangat kurus dan mungil bagai anak kucing dari induk yang kekurangan gizi: merah dan nampak hampir mati dengan berat tak sampai dua kilo. Selain itu, Jorge juga lahir dengan posisi yang tidak biasa: pantatnya keluar terlebih dulu dari rahim ibunya; membuat bidan yang membantu proses kelahirannya kaget, karena mengira yang lahir dari rahim sang ibu adalah jeroan, bukannya bayi. Hingga kaki kirinya keluar di susul kaki kanannya dan si bidan berteriak dengan lega, “Puji Tuhan ternyata itu pantat!Bukan jeroan.”
Jorge tumbuh sebagai anak yang aneh dan tidak biasa. Ia hiperaktif, suka berteriak-teriak sendirian. Ketika berusia enam tahun, tubuhnya sudah setinggi anak sepuluh tahun namun tanpa daging. Kakek dan paman-pamannya punya sebutan untuk Jorge kecil yang nakal: tengkorak hidup. Jorge adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya lahir satu setengah tahun setelahnya. Ia lahir dari keluarga yang tidak biasa. Ayahnya keturunan Yahudi Polandia yang lari ke Chille pada perang dunia pertama, ibunya anak seorang sutradara film yang juga mantan tentara gerilya ketika perang saudara di Chille.
Keluarga Jorge sangat tidak biasa. Ayahnya berpenghasilan kecil sedang ibunya berpenghasilan besar. Ayahnya hanya seorang kasir yang bekerja di kantor pos, ibunya seorang penyiar radio nasional yang membawakan acara lagu-lagu pop barat terkini. Bagaimana kedua orang ini bertemu adalah kisah tersendiri, namun secara singkat, semua berawal ketika ayah Jorge yang imigran menggoda ibu Jorge, seorang perempuan lokal yang sewaktu itu masih sekolah di kelas sebelas. Pendidikan ibunya lebih tinggi dari ayahnya, jadi otomatis seluruh perekonomian keluarga dikendalikan si ibu. Orang tuanya berpindah-pindah rumah kontrakan karena ibu Jorge tidak pandai menabung seberapapun besar penghasilannya, karena itu mereka tidak mampu membeli rumah hingga Jorge berusia empat belas tahun. Pengeluaran keluarga Jorge cukup besar karena si ibu sering membiayai spekulasi bisnis sampingan ayah Jorge yang seringkali gagal atau hanya untung sedikit. Ayah Jorge berbisnis pranko dan materai palsu yang untungnya tidak sampai seperempat sen per prangko/materai.
Sejak kecil, Jorge sering melihat hal-hal aneh yang dilakukan keluarganya. Ia melihat ayah ibunya bertengkar sebelum bersenggama, apakah mereka akan mematikan lampu atau tidak—yang selalu dimenangkan ibunya yang mematikan lampu; di dalam gelap, Jorge seperti menonton film porno hitam putih.
Ia juga melihat pamannya yang kecanduan LSD berbicara lantang pada tv yang mati, sementara neneknya yang stroke duduk di kursi roda melihat tingkah anak bungsunya sambil menangis tanpa bisa mengusap air mata karena tangannya lumpuh.
Ia pernah mengantar sepupunya, Pablo Jimenez, untuk membeli heroin di pinggiran kota yang dijual seorang nenek-nenek gipsi. Ia melihat sepupunya menghisap heroin yang ditabur di dashboard mobil sambil berkali-kali mengulang kata-kata, “Jorge, jangan pernah lakukan ini.”
Ketika beranjak remaja, Jorge terpengaruh lagu-lagu populer tentang cinta yang selalu diputar ibunya di radio. Ia jadi mendambakan hal-hal yang biasa, yang sederhana. Namun kenyataan hidup membuatnya tidak percaya dengan hal-hal yang biasa: ayahnya ternyata memiliki istri lagi di Polandia, istri yang dibiayai oleh ibu Jorge tanpa ia ketahui. Ibunya juga stress karena pekerjaannya dan hidup borosnya—keborosan dalam menghidupi suaminya, istri suaminya, dan dua anak lelakinya. Adik lelaki Jorge menghamili pacarnya hingga Jorge membantunya untuk mencari uang aborsi. Dihantui rasa bersalah, adiknya menjadi pemakai ganja dan obat-obatan anti depresan. Sejak itu Jorge tidak percaya lagi akan adanya hal yang ‘biasa’ di dunia ini. Ia tidak percaya pada institusi pernikahan, dan semua aturan yang dianggap biasa.
Namun kepercayaan ini naik turun karena ia berkenalan dengan Nina Fernandes dan ia langsung menyukai Nina bukan hanya karena penampilannya yang biasa, tetapi juga karena pemikirannya, keluarganya, dan rumahnya yang biasa. Ia mendamba Nina Fernandes dan kebetulan-kebetulan menyatukan mereka sebagai sahabat. Kebetulan mereka sekolah di sekolah yang sama, kebetulan lingkaran pertemanan mereka sama, kebetulan mereka kursus bahasa inggris di tempat yang sama, dan kebetulan mereka senang mengobrol berdua selama berjam-jam.
Nina memberikan Jorge pandangan tentang dunia yang biasa, dunia yang tak pernah dikenal Jorge. Dan Jorge menyukai Nina karena itu. Jorge tidak pernah mengatakan perasaannya pada Nina karena ia takut jika Nina tahu, maka hubungannya dengan Nina akan berakhir. Sampai pada suatu hari ketika mereka duduk di kelas dua belas, Nina sakit karena kelelahan. Gadis itu berjuang untuk hal-hal biasa yang diinginkan gadis biasa: ia ingin memuaskan semua orang. Ia ingin masuk universitas ternama untuk keluarganya, ia ingin menyembuhkan penyakit gila kambuhan kekasihnya agar kekasihnya itu menjadi biasa, dan akhirnya, ia sendiri menjadi sakit secara fisik dan mental. Keinginan menjadi biasa membuatnya menjadi tidak biasa.
Jorge sedih dan kecewa. Sahabatnya menjadi salah satu hal yang paling tidak biasa di hidupnya: tubuhnya menjadi kurus dan berbintik-bintik, rambutnya rontok, ia tak mampu bicara, ia sering menangis dan tertawa sambil menangis, dan Jorge berusaha mati-matian untuk berbicara dengannya, menghiburnya—tanpa ia mengerti apa yang dilakukan Nina. Dengan putus asa, Jorge mengambil kertas dan pulpen, agar Nina bisa bicara padanya. Dengan kertas itu, Nina menulis dengan tangan gemetar, tulisan yang terus diulang-ulang, “Jorge baik sekali. Jorge baik sekali.” Lalu Jorge menangis.
Kekasih Nina pada saat itu adala Mario de los Reyes. Seorang pemuda tampan, sopan, dengan gaya bicara yang lembut. Pada dasarnya Jorge cukup menyukai pemuda ini karena ia merasa pemuda ini se’biasa’ Nina. Walau seringkali ia cemburu pada kedekatan Nina dengan pemuda ini, namun kecemburuan itu akan selalu dipatahkan dengan suatu logika: Jorge tidak biasa dan Nina lebih pantas mendapatkan yang terbaik, yang biasa. Ketika Nina sakit, Jorge baru mendengar ke’tidak biasa’an Mario de los Reyes dari kawan-kawan Nina (yang juga kawan-kawannya), juga dari sikap keluarga Nina kepada Mario de los Rejes. Nina melupakan dunia sosialnya untuk lelaki ini, dan Jorge sendiri seringkali merasa kehilangan sahabatnya itu. Ketika Nina beranjak sembuh dan kembali ke keadaannya semula, Mario de los Reyes dengan cintanya yang menggebu tak pernah berhenti memperjuangkan Nina, dan Nina pun begitu. Mereka saling mencintai, dan Jorge mulai putus asa. Ia putus asa karena, jika apa yang dikatakan kawan-kawan Nina dan sikap keluarga Nina terhadap Mario itu benar, maka Nina akan kembali ke lubang yang sama.
Dengan keputusasaannya, Jorge berusaha membuat Nina melihat dirinya—dirinya yang tidak biasa itu. Namun Jorge tak ingin mengungkapnya dengan kata-kata. Ia ingin Nina merasakannya dan sadar sendiri. Sesuatu yang tidak mungkin karena kecintaan Nina pada Mario. Dan pada suatu hari, didorong oleh sakit akibat ramuan yang dibuat dari rebusan mendidih keputusasaan, cemburu, perasaan tidak berguna, dan kegeramannya pada pilihan Nina, Jorge mencium bibir Nina. Bukannya penerimaan, yang terjadi adalah penolakan. Di situlah Jorge sadar bahwa ketika cinta sudah bicara, semua hal menjadi tidak berguna. Orang akan selalu terjebak di perangkap yang sama berkali-kali. Jorge jadi membenci cinta, dan persahabatan merekapun terhenti…
Untuk sementara.
Neraka punya satu aturan:
Omnis ardentior amator propriae uxoris adulter est
-cinta kepada hak milik orang lain adalah perzinahan-
Ketika saya baru saja lepas dari belenggu fundamentalisme Islam yang aneh di SMA, saya bercinta dengan seorang perempuan yang takkan pernah saya lupakan sampai saya mati. Percintaan nekat yang melanggar dua hal paling tabu dalam peradaban kita sekarang: [1] dia adalah kekasih pria lain, dan [2] dia Katolik.
Tapi untuk saya, cinta adalah agama paling mulia dan ibadah paling suci. Masih terasa aroma tubuh dengan parfum white musk, kulitnya yang putih dan halus bagai “tugu pualam” (mengutip Shakespeare), dan kalung salib emas kecil dengan satu berlian di tengahnya yang menjadi objek utama saya ketika dia di pangkuan. Vaginanya adalah gerbang ke santuari paling suci, payudaranya adalah kelembutan yang menghangatkan jiwa, bibirnya adalah roti dari daging Yesus, dan liurnya adalah anggur suci, darah dari perjamuan terakhir.
Sementara salib emas itu adalah tujuan hasrat fetisisme saya. Ia memantulkan cahaya lampu kamar menjadi nur suci yang merasuki setiap celah di darah, memompa udara ke dalam jantung dan membersihkan hati dan pikiran dari segala dosa. Peluh dan peluh bercampur, liur dan liur melarut, cairan menyatu, doa menyatu, perasaan menyatu, agama
menyatu.
Dan bagi perempuan itu, saya adalah tahanan di ruang asing tertutup yang meraung minta dibuka dan diselamatkan. Ia rela menerobos masuk, melewati batas-batas budaya dan agamanya sendiri, menggenggam tangan saya dan menarik saya keluar. Keluar menuju semesta tanpa batas dengan bintang-bintang dan bimaksakti-bimasakti baru bertaburan. Kami melayang telanjang dalam sebuah persetubuhan transenden sampai
grativasi menarik balik.
Kami
… terjatuh
Dan kami adalah bayi kembar yang baru lahir dan mengalami disorientasi. Kami adalah Adam dan Hawa yang terbuang dan terpisah jauh. Kami anak-anak yang terbawa arus samudra dan terpisah…
Maka Islam tetaplah Islam, dan Katolik tetaplah Katolik. Kembalilah ia kepada makhluk lelaki yang mencintai tubuhnya seperti mencintai perabot tempat ibadah di gerejanya.
Jika saat itu saya mengerti betapa piciknya kebudayaan mememenjarakan kami. Jika saat itu kunci atas kebudayaan ada di saya seperti sekarang ini; kunci pengetahuan dan kunci pembebasan. Maka dunia bisa berubah indah.
Paling tidak dunia kami berubah indah, persetan dan ke neraka buat orang lain yang masih betah di neraka agama saling bunuh, saling siksa, saling hujat menghujat.
Persetan buat kalian yang masih nyaman dalam kebodohan. Setan!